Nama   :           Leni Novita

NRP    :           I24100025

Laskar  :           20

Ini adalah cerita seorang pemuda bernama Sahrial (29), warga Jln. Bumi Manti No.4 Kampung Baru, Kedaton. Ia memiliki fisik dan mental yang lemah, penglihatan dan kaki kanannya lumpuh sejak kecil. Namun hal itu tidak mengendurkan semangatnya untuk hidup normal.

Ia berusaha mencari uang dengan bekarja sebagai penyemir sepatu. Hasil dari jerih payahnya itu ia tabung untuk biaya operasinya nanti. Ia terus berusaha, tanpa ada sedikitpun dalam hatinya terbersit keinginan untuk berhenti dan menyerah.

Setiap hari, ia pergi bekerja untuk menyemir sepatu. Dengan harapan, hari ini ia bisa mendapatkan sebagian rezeki yang Allah tebarkan ke dunia ini. Dia tidak pernah merasa rendah diri, walaupun ia tahu bahwa setiap orang melihat dirinya dengan perasaan iba. Dan mungkin setiap orang yang memakai jasanya untuk menyemir sepatu mereka bukan karena sepatu mereka kotor, melainkan karena terdorong rasa kasihan kepadanya.

Ia selalu berfikir pekerjaan ini adalah jalan untuknya dalam mencari rezeki dari Allah. Selama beberapa tahun ia terus menekuni pekerjaannya sebagai penyemir sepatu, ia terus berusaha dan berdoa kepada Allah. Dan akhirnya uang untuk biaya operasi pun hampir terpenuhi

Suatu hari, ia menyemir sepatu seorang bapak, usianya sekitar 40 tahun. Seraya menyemir sepatu bapak itu, ia dan bapak itu berbincang – bincang hingga perbincangan itu masuk kesebuah topik dimana Sahrial menceritakan keinginannya untuk bisa hidup normal, ia ingin mengoperasi mata dan kaki kanannaya yang lumpuh.

Kemudian tidak berapa lama dari kejadian itu, datanglah sebuah surat ke rumah Sahrial. Di situ tertulis, bahwa Sahrial dapat melakuakan operasi di rumah sakit Abdoel Moelok secara garatis. Ini benar – benar suatu anugrah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Akhirnya ia dapat menjalani operasi.

Keudian pada hari yang telah ditentukan ia pergi ke rumah sakit. Di sana tanpa sengaja ia berpapasan dengan bapak yang dahulu berbincang – bincang dengannya. Ia mengatakan kepada bapak itu, bahwa ada seorang dermawan yang telah mebantunya untuk mengopersi mata dan kakinya. Ia merasa sangat berterima kasih kepada dermawan itu, dan bapak itu pun hanya tersenyum saja mendengar cerita Sahrial.

Akhirnya, Sahrial di operasi. Dan sekarang ia sudah menjalani kehidupan normal. Kemudian ia mencoba mencaritahu siapa dermawan yang telah membantunya. Ia ingin mengucapkan teriam kasih secara langsung. Ia menemui resepsionis rumah sakit dan mendapatkan sebuah nama dan alamat. Ia pergi ke alamat tersebut. Dan ternyata setelah ia sampai, ia bertemu dengan bapak itu lagi, bapak yang sering berbincang – bincang dengannya. Kemudian ia bertanya sebuah nama kepada bapak itu,” Apakah anda tahu bapak Bambang?” Bapak itu berkata,” Ia saya sendiri.”

Subhanallah alangkah terkejutnya Sahrial. Ternyata dermawan itu adalah bapak yang sering berbincang – bincang dengannya. Hingga sat ini Sahrial tetap menjalin tali silahturahim dengan keluarga pak Bambang.

Nama   :           Leni Novita

NRP    :           I24100025

Laskar  :           20

Ini adalah ceritaku. Cerita pada tahun 2007. Ketika aku akan masuk SMA. Saat itu, setiap siswa – siswi SMP yang ingin masuk ke SMA harus mengikuti tes, dalam tes tersebut kita dapat memilih 3 SMA sekaligus. Saat itu aku memilih SMA N 9, SMA N 1, dan SMA N 4. Di sini, aku sangat berharap bisa masuk ke SMA N 9. Sehingga, setelah lulus SMP. Aku rajin mengikuti bimbel.

Akhirnya waktu tes masuk SMA tiba. Saat itu, aku benar – benar merasa gugup sekali. Rasa ingin masuk menjadi salah satu siswi di SMA N 9 begitu besar. Sampai – sampai saat mengerjakan soal test jantungku terus berdegup kencang. Itu benar – benar pengalaman yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Setelah ujian selesaipun, aku masih merasa gugup, khawatir, dan cemas tidak dapat lulus. Sampai beberapa hari setelah ujianpun, aku masih merasakan kegugupan itu.

Akhirnya, hari pengumuman masuk SMA pun tiba. Saat itu kegelisahan dan kegugupan yang kurasakan ketika mengerjakan ujian SMA menghampiriku lagi. Aku benar – benar gugup. Aku melihat koran pada hari itu. Mencari namaku di daftar siswa – siswi yang masuk SMA N 9. Benar – benar tidak bisa kubayangkan, namaku tidak tercantum di situ. Saat itu aku benar – benar merasa sedih dan sangat kecewa. Kenapa aku tidak bisa masuk SMA 9?

Kemudian aku mencari namaku di daftar siswa – siswi yang masuk SMA 1 dan namaku juga tidak tercantum di sana . Kemudian, aku melihat daftar nama siswa – siswi yang masuk di SMA 4, ternyata namaku ada di sana , tepat diurutan ke- 20. Aku melihat nilai testku, ternyata nilaiku 7,4. Apa kalian tahu batas bawah nilai siswa – siswi yang masuk SMA 9 berapa? 7,5 , ya, 7,5. Rasanya hati ini benar – benar sakit . aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menangis sejadi – jadinya. Nilaiku hanya kurang 0.1 lagi, hanya 0,1 lagi. Ini tidak adil. Mengapa aku tidak bisa masuk ke SMA 9,  mengapa aku malah masuk ke SMA 4 sekolah cadangan yang sebenarnya tidak kuminati.

Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku masih merasa sangat sedih. Aku selalu menangis sehabis sholat. Aku selalu berfikir Allah benar – benar tidak adil. Allah pasti salah memasukkan aku ke SMA 4. Aku selalu berfikir begitu. Karena melihat aku selalu sedih, orangtuaku pun menasehatiku, mereka mengatakan semua ini adalah yang terbaik untukku, ini yang terbaik menurut Allah untukku. Semua ini pasti ada hikmahnya. Mereka menyarankan aku untuk mencoba dulu sekolah di SMA 4. Tetapi, aku masih belum bisa menerima semua ini. Aku masih merasa sangat kecewa. Kekecewaan ini pun masih tetap ada meskipun aku sudah mulai sekolah di SMA 4. Aku masih tidak suka dengan sekolah baruku ini. Akhirnya, orang tuaku mengatakan akan mencoba memindahkan aku ke SMA 9. Mendengar hal itu, terbersit secercah harapan di hatiku, aku akan masuk SMA 9. Kemudian orang tuaku mengunjungi rumah seorang guru SMA 9 kenalan teman mama. Kemudian guru itu mengatakan bahwa sulit sekali jika mau pindah ke SMA 9. Ini benar – benar membuatku merasa sedih untuk kedua kalinya.

Akhirnya, mau tidak mau aku harus bersekolah di SMA 4. Aku mencoba untuk menyukai sekohku ini. Di sini aku terus belajar dengan tekun, karena aku ingin menunjukkan bahawa aku akan suskses di sini. Alhamdulillah, di sini aku menjadi salah satu siswi berprestasi, aku mendapatkan beasiswa prestasi dari sekolah. Ternyata apa yang dikatakan kedua orang tuaku terbukti. Ternyata memang benar ada sebuah hikmah yang disembunyikan Allah untukku di sini. Akhirnya aku paham, apabila aku di SMA 9 mungkin aku tidak akan meraih prestasi seperti di SMA 4. Dan sekarang aku merasa bersyukur dapat bersekolah di SMA 4, karena bukan hanya prestasi sja yang dapat kuraih, tetapi di sini aku juga mempunyai banyak teman. Dan sekarang aku telah lulus dari SMA 4 dan kuliah di IPB.